MUSI BANYUASI,Hunternews.online – Di tengah gemuruh slogan “Muba Maju Lebih Cepat” yang terus digaungkan oleh Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, realitas di lapangan justru menghadirkan ironi yang sulit ditutupi. Bukan percepatan pembangunan yang dirasakan, melainkan percepatan kerusakan yang dibiarkan tanpa solusi.
Pemandangan kontras itu terlihat jelas di Desa Ulak Macang, Kecamatan Sanga Desa. Jalan yang seharusnya menjadi akses utama masyarakat kini berubah fungsi, dari jalur distribusi ekonomi menjadi lintasan ekstrem penuh lumpur.
Alih-alih aspal mulus dari APBD yang nilainya kerap disebut fantastis, warga justru “dihadiahkan” kubangan raksasa yang siap menjebak siapa saja yang melintas.
Dalam video amatir yang beredar, kondisi jalan tersebut tampak lebih menyerupai parit berlumpur ketimbang infrastruktur publik.
Kendaraan roda dua maupun roda empat harus berjibaku, bahkan tak jarang menyerah di tengah jalan. Sebuah potret yang secara telanjang memperlihatkan bagaimana prioritas pembangunan dipertanyakan.
“Ini lah jalan Ulak Macang… mana pemerintah? Katanya mau Maju Lebih Cepat?” keluh seorang warga dalam rekaman video, dengan nada getir yang tak lagi bisa disembunyikan di unggah pada Senin (23/3/2026).
Ironi semakin terasa mengingat Musi Banyuasin dikenal sebagai salah satu daerah kaya sumber daya alam, khususnya minyak.
Namun di balik gemerlap potensi tersebut, warga di pelosok justru harus menghadapi kenyataan pahit, akses jalan yang hancur, mobilitas terhambat, dan risiko keselamatan yang meningkat setiap hari.
Sementara aktivitas penambangan minyak, legal maupun ilegal, terus berlangsung, dampak kerusakan lingkungan dan infrastruktur seolah menjadi beban sepihak yang harus ditanggung masyarakat. Di sisi lain, para pemangku kebijakan terlihat lebih sibuk dengan agenda seremonial dan rapat-rapat formal yang kerap jauh dari denyut persoalan di lapangan.
Kondisi ini memantik pertanyaan mendasar, ke mana sebenarnya alokasi anggaran pemeliharaan jalan? Apakah pembangunan hanya berhenti pada laporan dan presentasi, tanpa pernah benar-benar menyentuh kebutuhan riil masyarakat?
Warga Ulak Macang pun mulai jengah dengan pola lama, janji yang muncul saat musim politik, lalu menghilang tanpa jejak setelah kekuasaan diraih. Jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki kini menjadi simbol nyata dari memudarnya kepercayaan publik.
“Dulu janji mau diperbaiki, sekarang lihat sendiri kondisi jalan kami loyak serte nodok,” ungkap warga lainnya, menyiratkan kekecewaan yang telah menumpuk.
Masyarakat tidak lagi membutuhkan narasi optimistis atau kunjungan kerja penuh dokumentasi. Mereka membutuhkan tindakan konkret, alat berat yang bekerja, jalan yang diperkeras, dan kehadiran pemerintah yang nyata, bukan sekadar simbolik.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka slogan “Muba Maju Lebih Cepat” berisiko menjadi sekadar jargon kosong, sebuah kemajuan yang hanya hidup di atas kertas, sementara di lapangan, rakyat masih tertinggal, terjebak, dan dipaksa beradaptasi dengan kubangan yang seharusnya sudah lama ditinggalkan. (Tim/Red).












