Viral! Sungai Bumi Kencana Diduga Tercemar Limbah Pabrik Sawit PT SIAP, Aparat Diam?

MUSI BANYUASIN,Hunternews.com – Keluhan masyarakat terkait dugaan pencemaran lingkungan akibat operasional pabrik kelapa sawit kembali mencuat ke permukaan. Kali ini, sorotan datang dari tidak hanya warga Bumi Kencana tetapi publik yang menuding adanya aktivitas pembuangan limbah cair ke aliran sungai yang diduga berasal dari PT SIAP Srigunung.

Isu ini menguat setelah beredarnya sebuah video di media sosial TikTok yang diunggah oleh akun @elang_nusantara. Dalam video tersebut, terlihat kondisi air sungai yang berubah warna menjadi gelap dan pekat, memicu kekhawatiran publik. Unggahan tersebut dengan cepat menjadi viral, hingga Sabtu (26/4/2026) ditonton hampir 28 ribu kali, disukai ratusan pengguna, serta menuai puluhan komentar yang sebagian besar berisi keluhan serupa dari warga.

Narasi dalam video itu secara tegas menyebutkan bahwa limbah cair yang mengalir ke sungai bersumber dari aktivitas pabrik kelapa sawit milik PT SIAP. Kondisi ini disebut bukan pertama kali terjadi, melainkan telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama tanpa adanya tindakan tegas dari pihak berwenang.

Keresahan masyarakat semakin mengemuka melalui kolom komentar. Seorang warga dengan akun @Azkaathaya12 menyampaikan kekecewaannya atas kondisi lingkungan yang terus memburuk.

“Bukti sudah nampak di depan mata, dari pencemaran air, asap limbah, hingga pencemaran udara sudah bertahun-tahun. Apakah kalian yakin aparat berani menindak dinas terkait dan cukong yang ada di dalamnya? Kalau saya jujur, sudah pesimis,” tulisnya.

Keluhan serupa juga disampaikan warga lain yang menyoroti dugaan lemahnya sistem pengelolaan limbah, khususnya kapasitas kolam penampungan limbah yang dinilai tidak memadai untuk menampung produksi harian pabrik.

“Kalau tidak dibuang ke sungai, mana kuat kolam limbah menampung limbah pabrik yang setiap hari hampir ratusan ton air digunakan,” tulis akun @pejuang_rupia1.

Tak hanya berdampak pada lingkungan, warga juga mulai merasakan efek kesehatan. Beberapa laporan menyebutkan munculnya gangguan kulit, terutama pada anak-anak yang diduga akibat paparan air tercemar.

“Sangat berbahaya limbah pabrik sawit, bikin badan gatal-gatal. Terutama pada anak-anak,” tulis akun lain dalam komentar.

Selain itu, aroma tidak sedap dari aliran sungai disebut semakin menyengat, terutama saat musim hujan. Bau tersebut bahkan dilaporkan mencapai kawasan permukiman seperti SPC1 (Simpang C1), menambah ketidaknyamanan warga.

Warga juga mengungkapkan bahwa aksi protes sebenarnya telah dilakukan sejak kondisi belum separah sekarang. Namun, mereka menilai tidak ada respons serius dari pihak perusahaan.

“Dusun saya waktu sebelum separah ini sudah sempat protes. Kalau musim hujan baunya sampai ke SPC1(red. Simpang C1). Pihak pabrik sampai sekarang tetap buang limbah ke sungai,” ungkap salah satu warga.

Di tengah polemik ini, muncul pula perdebatan terkait aspek perizinan, khususnya keterlibatan pemilik kebun plasma dalam proses berdirinya pabrik. Hal ini semakin memperkeruh situasi sosial di tengah masyarakat.

Dari sisi lingkungan, pencemaran ini dikhawatirkan telah merusak ekosistem sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga. Selain sebagai sumber air, sungai juga memiliki fungsi penting bagi aktivitas sehari-hari masyarakat.

Menyikapi kondisi tersebut, masyarakat mendesak langkah konkret dari berbagai pihak, antara lain:

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk segera melakukan uji laboratorium terhadap kualitas air sungai.

Aparat penegak hukum untuk menelusuri izin lingkungan serta sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) perusahaan.

Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin agar memberikan sanksi tegas jika terbukti terjadi pelanggaran.

Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa pengelolaan limbah industri, khususnya sektor kelapa sawit, masih menyisakan persoalan serius di lapangan. Transparansi, pengawasan ketat, serta penegakan hukum yang konsisten menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dan perlindungan masyarakat. (Tim Liputan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *