Ketum PWRI: Di Tengah Ancaman Perang Global, Indonesia Diyakini Mampu Bertahan Berkat Kekayaan Alam dan Kekuatan Domestik

JAKARTA,Hunternews.online – Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global yang berpotensi memicu konflik berskala luas, Indonesia dinilai tidak perlu gentar menghadapi dampak yang dapat mengguncang stabilitas energi dan ekonomi dunia. Dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah serta posisi geografis yang strategis, Indonesia justru memiliki fondasi kuat untuk bertahan, bahkan berpeluang tampil sebagai pemain penting di kancah internasional.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI), Dr. Suriyanto PD, SH, M.H, M.Kn, dalam catatan analisisnya terkait kesiapan Indonesia menghadapi ketidakpastian global.

Ketum PWRI menegaskan bahwa kekuatan Indonesia terletak pada cadangan sumber daya strategis, mulai dari nikel, batu bara, gas alam, hingga potensi besar di sektor kelautan dan pertanian.

“Indonesia tidak perlu takut, tetapi pemerintah tidak boleh lengah. Kekayaan alam adalah pondasi, bukan benteng,” tegasnya, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, terdapat tiga sektor utama yang menjadi penopang ketahanan nasional. Pertama, energi primer seperti minyak dan gas (migas) serta batu bara. Kedua, material kritis seperti nikel, bauksit, tembaga, dan timah yang menjadi tulang punggung industri baterai global. Ketiga, sektor pangan dan bioenergi, termasuk komoditas unggulan seperti kelapa sawit, tebu, dan singkong.

Dengan kekuatan tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mencapai kemandirian energi dan pangan, sehingga tidak terlalu bergantung pada rantai pasok global yang rentan terganggu saat konflik terjadi.

Namun demikian, Suriyanto mengingatkan bahwa potensi besar tersebut harus diimbangi dengan kebijakan yang tepat dan responsif.

Dia menekankan pentingnya langkah konkret pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional, seperti peningkatan cadangan BBM, LPG, dan avtur, serta pengembangan kapasitas penyimpanan energi di pelabuhan strategis.

Selain itu, percepatan pembangunan sektor hulu serta pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dinilai menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Strategi diversifikasi impor energi dan penguatan diplomasi energi yang tidak bergantung pada satu blok negara, juga menjadi langkah penting di tengah dinamika global yang tidak menentu.

Dalam skenario darurat, Suriyanto menyoroti pentingnya penyaluran subsidi energi yang tepat sasaran agar tidak membebani fiskal negara, sekaligus menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas sektor industri.

“Dengan pasar domestik yang besar dan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki kekuatan untuk bertahan. Kuncinya ada pada kebijakan pemerintah yang cepat, tepat, dan adaptif,” ujarnya.

Lebih jauh, Suriyanto menekankan bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam mempercepat implementasi hilirisasi energi serta menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Jika langkah-langkah strategis tersebut dijalankan secara konsisten, Indonesia diyakini tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai kekuatan ekonomi yang resilien di tengah ancaman konflik global. (Tim/Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *