Kades Tanjung Raya: Longsor Gerus Jalan Nasional di Muba, Aktivitas Ekonomi Sumsel Terancam Lumpuh

MUSI BANYUASIN,Hunternews.online – Ancaman lumpuhnya jalur vital Sumatera Selatan kini bukan lagi sekadar peringatan dini. Jalan Nasional Lintas Tengah Sumatera yang menghubungkan Palembang–Lubuklinggau, tepatnya di Desa Tanjung Raya, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), berada di ambang kehancuran setelah longsor hebat terus menggerus badan jalan utama penghubung antarwilayah.

Kondisi memprihatinkan itu memantik gelombang kritik tajam dari masyarakat dan pemerintah desa setempat. Melalui unggahan video di akun TikTok resmi @tanjungrayamuba5, Kepala Desa Tanjung Raya, Sulaiman, S.H., secara terbuka memperlihatkan situasi darurat yang dinilai luput dari respons cepat pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat.

Dalam rekaman visual tersebut, terlihat badan jalan nasional mengalami abrasi parah hingga nyaris menggantung tanpa penyangga tanah yang memadai. Longsor yang terus bergerak disebut telah memangkas badan jalan hampir dua meter dan sewaktu-waktu dapat menyebabkan akses utama Palembang–Lubuklinggau terputus total.

“Kami melaporkan kembali kepada Dinas PUPR Muba, Dinas Perhubungan, hingga kementerian terkait. Longsor ini sudah memakan badan jalan hampir 2 meter. Jika terjadi longsor 2 meter lagi, jalur lintas tengah yang menghubungkan Muba ke Musi Rawas akan putus total!” tegas Sulaiman dalam unggahan video tiktok @tanjungrayamuba5, Kamis (7/5/2026).

Pernyataan itu bukan alarm kosong. Jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi distribusi ekonomi dan mobilitas masyarakat di Sumatera Selatan. Jika akses ini lumpuh, maka arus logistik, perdagangan, hingga aktivitas masyarakat lintas kabupaten dipastikan akan terganggu secara massif.

“Seluruh giat ekonomi dan usaha rakyat yang bergantung pada jalur ini akan hancur jika dibiarkan terus begini,” lanjutnya.

Yang lebih ironis, ancaman longsor di Desa Tanjung Raya ternyata bukan peristiwa baru. Pemerintah desa mengungkapkan bahwa sejak 2024 hingga 2025, sedikitnya empat rumah warga telah menjadi korban akibat abrasi dan longsor di tepian sungai yang terus mengikis daratan.

Kini situasi semakin mengkhawatirkan. Selain badan jalan nasional yang kritis, sejumlah fasilitas publik penting seperti Kantor Balai Desa Tanjung Raya dan kawasan permukiman padat penduduk masuk dalam zona rawan longsor susulan atau ring 1 bencana.

Di lapangan, warga menyaksikan sendiri bagaimana aspal jalan nasional menggantung di atas aliran sungai yang terus menggerus tanah di bawahnya. Namun hingga kini, masyarakat menilai belum terlihat langkah penanganan permanen yang konkret dan terukur.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius terhadap efektivitas pengawasan dan mitigasi infrastruktur nasional oleh pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum. Kritik pun mulai mengarah pada lambannya respons birokrasi terhadap ancaman yang jelas-jelas berpotensi memutus akses strategis Sumatera Selatan.

“Kami berharap kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, Bapak Gubernur, dan Menteri PU untuk segera memberikan tindakan yang pasti, tegas, dan terukur. Jangan hanya ditinjau, tapi segera diperbaiki sebelum jatuh korban lebih banyak!,”pungkasnya.

Publik kini menunggu langkah nyata pemerintah. Sebab jika penanganan terus berjalan lamban, bukan hanya jalan nasional yang akan ambruk, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap keseriusan negara dalam melindungi infrastruktur dan keselamatan rakyatnya sendiri. (Tim/Red).

Editor: Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *