Duka di Balik Tawa: Jalan Lumpuh, Warga “Berenang” di Tengah Abainya Infrastruktur Muba

MUSI BANYUASIN,Hunternews.online – Di tengah riuh tawa anak-anak yang menjadikan genangan air sebagai arena bermain, tersimpan ironi yang menohok nurani. Ruas jalan strategis penghubung Desa Peninggalan dan Desa Sukadamai, Kecamatan Tungkal Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), berubah menjadi “kolam renang” raksasa setiap kali hujan deras mengguyur.

Kondisi ini kembali terjadi pada Sabtu (4/4/2026), ketika banjir merendam badan jalan hingga memutus total akses transportasi. Kendaraan roda dua dan roda empat tak mampu melintas. Sebuah truk bahkan terlihat terjebak di tengah genangan, sementara pengendara motor dipaksa berjibaku melawan arus air yang cukup deras, mempertaruhkan keselamatan mereka.

Tokoh masyarakat Desa Peninggalan, A. Jusman, menggambarkan situasi tersebut dengan nada getir bercampur satir.

“Jalannya putus, motor dan mobil tidak bisa lewat. Sekarang jadi kolam renang,” ujarnya kepada tim liputan, Minggu (5/4/2026).

Pernyataan itu bukan sekadar kelakar, melainkan kritik tajam atas kondisi infrastruktur yang seolah luput dari perhatian. Jalan yang semestinya menjadi urat nadi perekonomian, akses pendidikan, dan mobilitas warga, kini justru berubah menjadi hambatan utama kehidupan sehari-hari.

Ironi kian terasa ketika anak-anak terlihat berenang riang di atas jalan yang terendam. Pemandangan yang bagi sebagian tampak biasa, justru menjadi simbol kegagalan tata kelola infrastruktur dasar di daerah. Di balik tawa polos mereka, tersimpan realitas pahit tentang akses publik yang terabaikan.

Banjir di jalur Peninggalan–Sukadamai bukanlah peristiwa baru. Namun hingga kini, solusi konkret masih jauh dari harapan. Tidak terlihat adanya perbaikan signifikan, baik dari sisi peningkatan kualitas jalan maupun pembenahan sistem drainase yang memadai.

Dampak yang ditimbulkan pun tidak bisa dianggap sepele. Lumpuhnya akses jalan berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok akibat terhambatnya distribusi logistik. Aktivitas ekonomi warga tersendat, sementara akses menuju fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan ikut terganggu.

Lebih dari itu, ancaman keselamatan menjadi persoalan mendesak. Tanpa rambu peringatan yang jelas maupun rekayasa lalu lintas darurat, warga yang nekat melintas menghadapi risiko terseret arus atau terperosok ke lubang jalan yang tak terlihat di balik air keruh.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: di mana kehadiran negara ketika infrastruktur dasar masyarakat justru tenggelam setiap musim hujan?

Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin beserta dinas terkait untuk segera mengambil langkah nyata. Perbaikan jalan dan normalisasi drainase bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak yang tak bisa ditunda.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait langkah darurat yang akan ditempuh. Sementara itu, warga hanya bisa berharap dan bertahan, di tengah kondisi yang terus berulang, seolah menjadi rutinitas tahunan yang tak pernah benar-benar diselesaikan. (Tim/Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *