MUSI BANYUASIN,Hunternews.online – Sebuah video amatir yang memperlihatkan kondisi jalan rusak parah di Dusun 7 Keban 1, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), mendadak viral di media sosial. Rekaman berdurasi singkat itu diunggah Selasa (21/4/2026), sontak menyedot perhatian publik, sekaligus menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah yang selama ini gencar menggaungkan narasi pembangunan.
Dalam video tersebut, realitas di lapangan berbicara jauh lebih keras daripada janji-janji di ruang rapat. Jalan yang seharusnya menjadi akses utama warga berubah menjadi kubangan lumpur pekat sedalam lutut orang dewasa. Aktivitas harian masyarakat pun nyaris lumpuh.
Sebuah truk tangki bermuatan Bahan Bakar Minyak (BBM) tampak tak berdaya, terjebak di tengah lumpur. Kendaraan roda empat lainnya harus ditarik menggunakan tali, sementara pengendara sepeda motor dipaksa berjibaku dengan kondisi ekstrem hanya untuk bisa melintas. Jalan tersebut lebih menyerupai “sungai lumpur” ketimbang infrastruktur transportasi yang layak.
Narasi dalam video itu pun menyentak kesadaran publik: “Dusun 7 Keban 1 Sanga Desa… Mana janji mu,, TUAN..” Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna. Bukan sekadar keluhan, melainkan gugatan terbuka terhadap komitmen pemerintah daerah yang dinilai abai terhadap kebutuhan dasar warganya.
Infrastruktur yang Terlupakan
Potret jalan di Dusun 7 Keban 1 menjadi cermin buram ketimpangan pembangunan di daerah. Di tengah status Musi Banyuasin sebagai wilayah kaya sumber daya alam, ironi justru terpampang nyata di pelosok desa.
Kerusakan jalan ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyentuh langsung urat nadi kehidupan masyarakat. Distribusi hasil pertanian terhambat, biaya logistik melonjak, dan akses terhadap layanan pendidikan maupun kesehatan menjadi semakin sulit.
Warga harus membayar mahal, secara ekonomi dan keselamatan, akibat infrastruktur yang tak kunjung mendapat perhatian serius.
Menanti Aksi Nyata, Bukan Retorika
Hingga kini, belum terlihat langkah konkret dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) maupun Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin untuk menangani persoalan tersebut. Publik pun mulai mempertanyakan transparansi dan prioritas penggunaan anggaran pembangunan.
Gelombang kritik terus menguat. Pemerintah daerah dinilai lebih sibuk dengan seremoni dan pencitraan, sementara persoalan mendasar seperti akses jalan di tingkat dusun justru terabaikan.
“Jangan hanya datang saat butuh suara, tapi lupakan kami saat jalanan hancur seperti kubangan kerbau begini,” ujar seorang warga di kutip Rabu (22/4/2026).
Kini, sorotan publik tertuju ke Musi Banyuasin. Pertanyaan warga “Mana janji mu, Tuan?” menggema sebagai ujian nyata bagi kepemimpinan daerah.
Apakah jeritan itu akan dijawab dengan tindakan konkret berupa perbaikan jalan dan turunnya alat berat ke lokasi? Ataukah, seperti yang sudah-sudah, hanya akan tenggelam dalam janji-janji yang larut bersama lumpur dan hujan di Dusun 7 Keban 1? (Tim/Red).












