MUSI BANYUASIN,Hunternews.online – Sebuah video amatir berdurasi 29 detik yang memperlihatkan aksi warga di Desa Keban 1, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), mendadak viral di media sosial. Rekaman yang diunggah pada Selasa (21/4/2026) itu bukan sekadar dokumentasi aktivitas gotong royong, melainkan potret telanjang kegagalan tata kelola infrastruktur di daerah penghasil sumber daya alam tersebut.
Dalam video itu, kondisi jalan kabupaten tampak jauh dari kata layak. Alih-alih menjadi jalur penghubung yang menunjang mobilitas dan distribusi ekonomi, ruas jalan tersebut justru menyerupai parit dalam dengan tanah merah yang lembek, berlubang, dan dipenuhi batu. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan warga berubah menjadi simbol keterisolasian dan ketertinggalan.
Ironisnya, di tengah kondisi kerusakan ekstrem itu, tak terlihat satu pun alat berat milik pemerintah daerah. Yang ada hanyalah warga, dengan tenaga dan alat seadanya, bahu-membahu mengangkat batu besar, menyusunnya satu per satu untuk menutup kubangan yang memutus akses kendaraan.
Di balik kerja fisik yang menguras tenaga, terselip suara getir yang mencerminkan akumulasi kekecewaan. Salah seorang warga dalam video tersebut secara terbuka mempertanyakan janji pembangunan yang tak kunjung terealisasi.
“Pemerintah kabupaten perlu tahu, mana janji kamu (yang) hendak membangun jalan ini? Kami bangun sendiri dulu secara manual, mengajak masyarakat bikin jalan, angkat batu besar-besar,” ujarnya di kutip, Kamis (23/4/2026).
Keluhan itu bukan tanpa alasan. Warga menyebut kondisi jalan semakin memburuk saat musim hujan, membuat kendaraan sulit melintas dan aktivitas ekonomi nyaris lumpuh. Bahkan dalam kondisi panas sekalipun, jalan tetap menyulitkan karena tekstur tanah yang labil dan berbatu.
Dengan kondisi serba terbatas, warga terpaksa bekerja di bawah terik matahari, tanpa kepastian bantuan dari pemerintah. Dalam rekaman itu juga terdengar ungkapan pengorbanan yang mengiris nurani.
“Belum makan, belum minum. Inilah pengorbanan kami. Tolong Pak Toha, Cekkeh, jalan kami di Keban dan diperhatikan,” kata warga, dalam video merujuk kepada Bupati Muba.
Fenomena yang disebut sebagai “swadaya paksa” ini menjadi ironi pembangunan di daerah. Di satu sisi, pemerintah kerap menggembar-gemborkan program pembangunan dan pemerataan infrastruktur. Namun di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya wilayah yang terabaikan, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti akses jalan.
Lebih jauh, kondisi ini juga memunculkan pertanyaan serius terkait prioritas anggaran daerah, transparansi pengelolaan, hingga efektivitas pengawasan terhadap proyek-proyek infrastruktur.
Mengingat wilayah tersebut berada di kawasan perkebunan kelapa sawit, sektor yang selama ini berkontribusi besar terhadap perekonomian daerah, keterpurukan infrastruktur justru memperlihatkan paradoks yang sulit diterima akal sehat.
Aksi gotong royong warga Sanga Desa sejatinya mencerminkan semangat kolektif yang patut diapresiasi. Namun ketika gotong royong berubah menjadi satu-satunya solusi atas kelalaian negara, maka yang terjadi bukan lagi solidaritas sosial, melainkan bentuk keterpaksaan akibat absennya peran pemerintah.
Video viral ini kini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin. Masyarakat tidak lagi membutuhkan janji, mereka menuntut kehadiran nyata. Jalan bukan sekadar infrastruktur, tetapi fondasi utama bagi akses pendidikan, kesehatan, dan perekonomian.
Konon katanya Desa Keban 1 terkenal area tambang minyak dan banyak tempat penyulingan minyak tradisional.
Bagaimana para cukong-cukong yang sukses menikmati hasil kekayaan alam tanpa setor pajak dan royalty ke negara?
Adakah kepedulian mereka terhadap kondisi saat ini ditengah daerah mengalami keterbatasan anggaran, dampak dari kebijakan pemerintah pusat memangkas Dana Bagi Hasil (DBH)?
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya kepercayaan publik yang tergerus, tetapi juga legitimasi pemerintah sebagai pelayan masyarakat. Kini, bola ada di tangan pemangku kebijakan, apakah akan tetap diam, atau segera turun tangan menjawab jeritan warga yang selama ini terabaikan.(Tim/Red).










