SEKAYU,Hunternews.online – Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit truk pengangkut tanah galian kembali memantik perhatian publik di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan. Sebuah truk Toyota Dyna 130 HT bernomor polisi BG 8289 LB dilaporkan terguling di kawasan Simpang Empat Lampu Merah dekat Kantor Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Muba, Jalan Kolonel Wahid Udin, Kelurahan Balai Agung, Kecamatan Sekayu, Rabu (5/8/2026).
Akibat insiden tersebut, muatan tanah yang dibawa kendaraan tumpah ke badan jalan sehingga sempat mengganggu arus lalu lintas di salah satu persimpangan strategis di ibu kota Kabupaten Musi Banyuasin. Warga sekitar bersama pengguna jalan terlihat memperlambat laju kendaraan untuk menghindari material tanah yang berserakan.
Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kecelakaan belum diketahui. Belum ada keterangan resmi dari aparat kepolisian mengenai faktor penyebab truk terguling maupun adanya korban dalam peristiwa tersebut.
Sejumlah warga yang berada di lokasi mengaku melihat iring-iringan truk pengangkut tanah melintas dari arah seberang Jembatan Musi (JM) sebelum kecelakaan terjadi.
“Saya tidak tahu pasti penyebab mobil terguling, namun sebelumnya terlihat iringan-iringan truk angkutan tanah dari arah JM,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya kepada tim liputan.
Keterangan serupa disampaikan warga lainnya berinisial A. Menurutnya, dalam beberapa hari terakhir intensitas kendaraan pengangkut tanah yang melintasi jalur tersebut meningkat cukup signifikan.
Ia menduga terdapat aktivitas galian di kawasan sekitar Jalan Sekayu–Sungai Keruh, meskipun dugaan tersebut masih perlu diverifikasi oleh instansi yang berwenang.
“Memang beberapa hari belakangan ini ramai truk-truk angkutan tanah galian dari seberang JM melintas Simpang Empat MPP,” katanya.
Selain menyoroti meningkatnya lalu lintas kendaraan bertonase besar, warga juga mengeluhkan dampak yang ditimbulkan terhadap keselamatan pengguna jalan. Ceceran material tanah yang tertinggal di aspal dinilai menjadi persoalan yang terus berulang.
Saat cuaca panas, material yang mengering berubah menjadi debu dan mengganggu kesehatan serta kenyamanan masyarakat. Sebaliknya, ketika hujan turun, sisa tanah berubah menjadi lumpur yang membuat permukaan jalan licin dan berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas.
“Banyak bekas tumpahan tanah di jalur ini membuat kami serba salah. Panas hirup debu, ketika hujan jalan menjadi becek dan licin,” ungkap warga.
Peristiwa tergulingnya truk tersebut dinilai bukan hanya persoalan kecelakaan lalu lintas semata, tetapi juga menjadi momentum untuk mengevaluasi pengawasan terhadap aktivitas angkutan material di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin.
Masyarakat berharap aparat Polres Musi Banyuasin bersama instansi teknis terkait melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap asal muatan tanah yang diangkut, termasuk menelusuri lokasi galian yang diduga menjadi sumber material tersebut.
Selain itu, warga juga meminta pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum memastikan apakah aktivitas galian yang diduga beroperasi di kawasan seberang Jembatan Musi telah memenuhi seluruh ketentuan perizinan, tata kelola lingkungan, serta aturan pengangkutan material di jalan umum.
Masyarakat menilai pengawasan tidak boleh berhenti pada penanganan kecelakaan di lokasi kejadian, tetapi harus menyentuh akar persoalan apabila memang terdapat aktivitas yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap keselamatan pengguna jalan maupun lingkungan.
Hingga berita ini diterbitkan, tim liputan masih berupaya memperoleh konfirmasi resmi dari pihak Polres Musi Banyuasin, Dinas Perhubungan, serta instansi berwenang terkait penyebab kecelakaan, identitas pemilik kendaraan, asal material tanah, dan status legalitas lokasi galian yang disebutkan warga.
Ruang hak jawab dan klarifikasi terbuka bagi seluruh pihak yang berkepentingan agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap berimbang, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.(Tim Liputan).












