Viral Curhat “Pejuang Rupiah” di Musi Banyuasin: Buruh Lapangan Migas Teriak Ketimpangan, Pemkab Muba Diminta Jangan Tutup Mata

SEKAYU,Hunternews.online – Sebuah video curahan hati bernada kritik keras dari sejumlah pekerja lapangan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, mendadak viral dan memantik perhatian publik luas. Video tersebut memperlihatkan realitas pahit kehidupan para buruh harian yang bekerja di medan ekstrem proyek infrastruktur migas, namun merasa kesejahteraan mereka justru tertinggal jauh dari laju kenaikan harga kebutuhan hidup.

Dengan latar jalan tanah berlumpur, tebing merah yang rawan longsor, serta suasana kerja yang berat dan berisiko tinggi, para pekerja yang menyebut diri mereka sebagai “Pejuang Rupiah” melontarkan kritik terbuka kepada pemerintah daerah dan para pengambil kebijakan di Musi Banyuasin.

Video berdurasi lebih dari satu menit itu memperlihatkan sejumlah pekerja mengenakan wearpack biru tengah beristirahat di pinggir jalur proyek. Dalam rekaman tersebut, seorang pekerja yang disebut sebagai Narasumber berinisial A berbicara dengan nada emosional namun penuh ketegasan mengenai tekanan ekonomi yang mereka alami sehari-hari.

“Kami ini pejuang rupiah, naik ke pipa, ke tebing yang sangat tinggi. Jadi untuk Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, tolong… untuk upah buruh harian ini dipikirkan! Jangan harga barang saja yang terus mahal, sementara penghasilan para buruh tidak ada peningkatan,” ungkapnya dalam video yang kini ramai beredar di berbagai platform media sosial, Selasa (19/5/2026).

Pernyataan itu langsung menyentuh keresahan publik, terutama masyarakat pekerja di wilayah pelosok Sumatera Selatan yang selama ini merasakan tekanan ekonomi serupa. Di tengah tingginya risiko kerja di sektor lapangan, para buruh mengaku harus menghadapi kenyataan pahit berupa pendapatan stagnan, sementara harga kebutuhan pokok terus melonjak tanpa kendali.

Jeritan Buruh dari Pelosok Muba

Narasi yang disampaikan para pekerja tidak sekadar keluhan biasa. Video tersebut menjadi potret sosial tentang ketimpangan antara geliat pembangunan infrastruktur dan kondisi nyata para pekerja di lapangan.

Para buruh menyoroti mahalnya harga beras, kebutuhan rumah tangga, hingga biaya hidup yang dinilai tidak lagi sebanding dengan upah harian yang mereka terima. Situasi tersebut disebut telah menciptakan tekanan ekonomi serius bagi keluarga buruh kecil di wilayah pelosok Musi Banyuasin.

Lebih jauh, kritik diarahkan langsung kepada para pejabat dan elite pengambil kebijakan yang dinilai kurang memahami kondisi nyata masyarakat pekerja di lapangan.

“Bagi yang pintar-pintar di Muba itu… kami ini menghidupi anak bini. Malah ada yang masih bujang. Kalau begini terus, tidak sesuai! Beras mahal, barang-barang mahal, pendapatan tidak bertambah,” ucap Narasumber A dengan nada tajam.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap ketimpangan sosial yang dirasakan masyarakat bawah. Para pekerja menilai pembangunan daerah selama ini belum sepenuhnya menyentuh kesejahteraan kelompok buruh lapangan yang justru menjadi tulang punggung proyek-proyek strategis.

Risiko Tinggi, Kesejahteraan Rendah

Dalam video itu tampak jelas bagaimana para pekerja harus menghadapi medan berat demi menyelesaikan pekerjaan proyek, termasuk mendaki tebing tinggi dan melewati jalur licin berlumpur yang rawan kecelakaan.

Namun ironisnya, menurut mereka, risiko besar tersebut tidak diimbangi dengan perlindungan kesejahteraan yang layak.

Fenomena ini kembali membuka diskusi publik mengenai kondisi buruh sektor kontraktor dan pekerja harian di daerah-daerah penghasil sumber daya alam. Di tengah besarnya aktivitas industri migas dan pembangunan infrastruktur di Musi Banyuasin, masih banyak pekerja yang merasa hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan.

Kritik yang disampaikan para “Pejuang Rupiah” juga menyentil maraknya lembaga pembiayaan atau pinjaman mikro di desa-desa pelosok yang dinilai justru memperberat beban masyarakat kecil.

Alih-alih menjadi solusi ekonomi, keberadaan berbagai skema pembiayaan disebut kerap menjerat warga dalam lingkaran utang di tengah penghasilan yang tidak mengalami peningkatan signifikan.

Tiga Tuntutan untuk Pemkab Muba

Melalui video tersebut, para pekerja tersebut bersama elemen buruh harian lainnya di wilayah pelosok Musi Banyuasin secara terbuka menyampaikan tiga tuntutan utama kepada Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin:

1. Mendesak audit dan evaluasi standar upah minimum harian bagi buruh sektor kontraktor lapangan agar sesuai dengan risiko kerja dan laju inflasi daerah.

2. Meminta pemerintah daerah melakukan intervensi terhadap harga kebutuhan pokok, khususnya di wilayah pelosok Muba yang terdampak lonjakan harga pangan.

3. Mendesak peningkatan pengawasan terhadap kesejahteraan dan keselamatan pekerja dalam proyek-proyek infrastruktur berisiko tinggi.

Video viral ini kini berkembang menjadi simbol kekecewaan sosial masyarakat pekerja bawah yang merasa selama ini hanya menjadi pelengkap dalam narasi pembangunan daerah.

Di balik proyek-proyek besar dan geliat investasi di Musi Banyuasin, terdapat suara-suara buruh kecil yang mengaku hidup dalam ketidakpastian ekonomi dan tekanan biaya hidup yang semakin berat.

Jika aspirasi tersebut terus diabaikan, bukan tidak mungkin gelombang protes dari kelompok pekerja lapangan akan meluas dan memicu solidaritas dari elemen buruh lainnya di Sumatera Selatan. Pemerintah daerah pun dituntut untuk tidak sekadar fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memastikan bahwa kesejahteraan pekerja di garis depan benar-benar menjadi prioritas utama. (Tim/Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *