Tiga Hari Tak Diangkut, Sampah Kepung Kayuara: Publik Pertanyakan Kinerja DLH Muba

MUSI BANYUASIN,Hunternews.online – Kemarahan warga Kelurahan Kayuara, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), tampaknya telah mencapai titik puncak. Kekecewaan yang selama ini terpendam akhirnya meledak ke ruang publik setelah sebuah video amatir yang diunggah warga pada Minggu pagi (31/5/2026) viral di berbagai platform media sosial.

Video berdurasi kurang dari satu menit itu memperlihatkan kondisi memprihatinkan di lingkungan permukiman warga. Tumpukan sampah rumah tangga terlihat menggunung di sepanjang jalan utama Kelurahan Kayuara. Kantong plastik hitam, karung bekas, hingga wadah-wadah darurat penuh limbah domestik tampak berserakan tanpa ada tanda-tanda penanganan dari pihak terkait.

Dalam rekaman tersebut, seorang warga menyampaikan kritik keras kepada Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Muba, yang dinilai gagal menjalankan fungsi dasar pelayanan publik.

“Selamat pagi, Pak Kadis DLH. Jangan tidur pagi! Ini Kelurahan Kayuara, Pak Kadis DLH. Sampahnya berserakan, sudah tiga hari tidak diangkut,” ujar warga dengan nada kecewa sambil memperlihatkan kondisi lingkungan yang dipenuhi sampah.

Unggahan tersebut dengan cepat menyita perhatian publik. Tidak sedikit warganet yang mempertanyakan bagaimana persoalan pengangkutan sampah yang merupakan layanan dasar pemerintah daerah bisa terhenti hingga berhari-hari tanpa penjelasan resmi kepada masyarakat.

Kritik Tajam terhadap Kinerja Pemerintah

Kemarahan warga tidak hanya berangkat dari persoalan sampah yang menumpuk. Lebih jauh, video tersebut menjadi simbol akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik yang mereka rasakan semakin jauh dari harapan.

Dengan nada tegas, warga dalam video itu menyinggung tanggung jawab moral para pejabat publik yang digaji oleh negara untuk melayani masyarakat.

“Jangan kamu hanya mengambil gaji dan mengambil uangnya saja! Bertanggung jawab dengan negara ini. Lihat itu sampah semua!” ucapnya sambil mengarahkan kamera ke tumpukan limbah yang berjajar di depan rumah-rumah warga.

Pernyataan tersebut mencerminkan keresahan yang lebih luas. Di tengah tuntutan peningkatan kualitas pelayanan publik, warga menilai pemerintah daerah seharusnya hadir memberikan solusi, bukan membiarkan persoalan dasar seperti pengelolaan sampah berubah menjadi ancaman kesehatan lingkungan.

Tumpukan sampah yang tidak segera diangkut berpotensi menimbulkan berbagai persoalan lanjutan, mulai dari bau menyengat, berkembangnya lalat dan tikus, hingga meningkatnya risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan. Selain itu, kondisi tersebut juga mencoreng wajah ibu kota Kabupaten Musi Banyuasin yang selama ini terus didorong menjadi daerah yang bersih dan nyaman.

Potensi Gejolak Sosial

Di tengah kekecewaan yang terus memuncak, warga juga mengingatkan bahwa pembiaran berkepanjangan terhadap persoalan sampah dapat memicu ketegangan sosial di tengah masyarakat.

“Bisa ribut dalam waktu dekat ini orang Kayuara kalau masalah sampah sudah dua sampai tiga hari tidak diambil,” kata warga tersebut.

Pernyataan itu bukan semata ancaman, melainkan gambaran nyata tentang tingkat frustrasi masyarakat yang merasa suaranya tidak didengar. Ketika layanan dasar tidak berjalan sebagaimana mestinya, kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah perlahan dapat terkikis.

Dalam perspektif tata kelola pemerintahan, persoalan sampah bukan sekadar urusan teknis pengangkutan limbah. Masalah ini berkaitan langsung dengan efektivitas birokrasi, manajemen pelayanan publik, serta kemampuan pemerintah dalam merespons kebutuhan masyarakat secara cepat dan tepat.

DLH Muba Belum Berikan Penjelasan

Hingga berita ini ditulis, pihak redaksi telah berupaya meminta konfirmasi kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Banyuasin, Oktarizal, S.E., melalui pesan WhatsApp terkait dugaan terhentinya pengangkutan sampah di Kelurahan Kayuara.

Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan maupun klarifikasi resmi.

Ketiadaan penjelasan dari instansi terkait justru semakin memperkuat pertanyaan publik mengenai penyebab terjadinya penumpukan sampah tersebut. Apakah disebabkan oleh kendala armada, persoalan anggaran, manajemen operasional, atau faktor lainnya, hingga kini belum diketahui secara pasti.

Rapor Merah Pelayanan Publik

Viralnya video warga Kayuara menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin. Di era keterbukaan informasi saat ini, keluhan masyarakat yang tidak segera ditangani dapat dengan cepat menjadi konsumsi publik dan menciptakan persepsi negatif terhadap kinerja pemerintah.

Masyarakat tidak membutuhkan janji-janji baru ataupun retorika administratif. Yang mereka harapkan adalah tindakan nyata, kehadiran pemerintah di tengah persoalan yang mereka hadapi, serta kepastian bahwa pelayanan publik berjalan sebagaimana mestinya.

Jika persoalan sampah yang bersifat mendasar saja tidak mampu diselesaikan dengan cepat, maka publik berhak mempertanyakan sejauh mana komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan tata kelola pelayanan yang profesional, responsif, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Kini bola berada di tangan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin dan Dinas Lingkungan Hidup. Warga Kayuara menunggu jawaban, bukan dalam bentuk pernyataan, melainkan dalam bentuk aksi nyata berupa lingkungan yang kembali bersih, sehat, dan terbebas dari tumpukan sampah yang telah memicu kemarahan publik.(Tim/Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *