MUSI BANYUASIN,Hunternews.online – Di tengah derasnya aliran minyak, gas, batubara, sawit, dan berbagai kekayaan alam yang terus diangkut dari perut bumi Musi Banyuasin (Muba), suara keras datang dari akar rumput. Sujarni, Ketua Perkumpulan ABS Jelata Muba, melontarkan kritik tajam yang menohok langsung jantung kebijakan fiskal daerah, Musi Banyuasin terlalu kaya untuk menjadi miskin, tetapi terlalu lama dibiarkan hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Menurut Sujarni, kondisi Kabupaten Musi Banyuasin hari ini adalah gambaran paling nyata dari ironi pembangunan yang brutal, daerah dengan limpahan sumber daya alam luar biasa, namun Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih jauh dari potensi sejatinya.
“Ini bukan sekadar soal angka PAD kecil. Ini soal kegagalan besar dalam membangun kedaulatan ekonomi daerah. Muba seperti ladang emas yang dijaga, tapi hasilnya lebih banyak mengalir keluar daripada kembali untuk rakyatnya sendiri,” tegas Sujarni dalam pernyataan tertulisnya kepada berbagai media di Sekayu, Kamis (30/4/2026).
Bagi ABS Jelata, problem utama bukan karena Muba miskin sumber daya, melainkan karena tata kelola kekayaan daerah dinilai belum cukup tajam, belum cukup berani, dan terlalu sering membiarkan struktur ekonomi eksternal mendominasi hasil bumi lokal.
Kaya Sumber Daya, Tapi Terjebak Dalam Pola “Penonton Eksploitasi”
Sujarni menyoroti bagaimana Muba selama ini lebih sering berperan sebagai wilayah eksploitasi daripada pusat akumulasi manfaat ekonomi. Minyak diambil, batubara diangkut, sawit dipanen, namun efek fiskal langsung bagi kemandirian daerah dinilai belum sebanding.
“Jalan-jalan rusak dilalui angkutan industri, lingkungan menanggung beban, masyarakat menghadapi dampak sosial, tapi keuntungan besar justru lebih dominan terkonsentrasi di luar. Kalau seperti ini terus, Muba hanya kebagian debu eksploitasi,” kritiknya tajam.
Ia menilai pemerintah daerah harus berhenti puas menjadi administrator wilayah produksi semata, sementara kendali nilai tambah ekonomi berada di luar daerah.
Hilirisasi Jangan Cuma Jadi Slogan
ABS Jelata juga menyoroti minimnya langkah progresif dalam mendorong hilirisasi nyata di wilayah penghasil. Menurut Sujarni, selama SDA hanya dijual dalam bentuk mentah, Muba akan terus kehilangan peluang besar menciptakan industri turunan, lapangan kerja berkualitas, dan lonjakan PAD.
“Jangan bangga hanya jadi penghasil. Yang harus dibangun adalah bagaimana Muba menjadi pusat pengolahan, pusat industri, pusat keuntungan. Kalau tidak, kita hanya terus jadi halaman belakang bagi kekayaan yang dibawa pergi,” katanya.
Sujarni bahkan menyebut pola ini sebagai bentuk “kolonialisme ekonomi modern”, ketika daerah kaya tetap bergantung karena nilai tambahnya dinikmati pihak lain.
Sorotan Pada Keberanian Pemda: Jangan Hanya Menunggu Transfer Pusat
Dalam pernyataannya, Sujarni juga mengkritik mental fiskal pasif yang menurutnya masih menjadi penyakit laten banyak daerah penghasil SDA, termasuk Muba: terlalu bergantung pada dana transfer pusat tanpa terobosan agresif membangun PAD mandiri.
“Kalau daerah hanya sibuk menunggu DBH, DAU, atau DAK, kapan mandirinya? Harus ada lompatan, BUMD yang profesional, digitalisasi pajak, penertiban kebocoran, keberanian lawan mafia rente, dan industrialisasi lokal,” serunya.
Menurutnya, kekayaan alam tanpa keberanian politik hanya akan melahirkan ilusi kesejahteraan.
Mafia SDA dan Kebocoran: Musuh Dalam Selimut
Sujarni juga menegaskan bahwa ancaman terbesar bukan hanya sistem pusat, tetapi juga kebocoran internal, mulai dari tata kelola lemah, permainan izin, hingga potensi praktik rente yang menggerus manfaat publik.
“Jangan sampai SDA rakyat habis bukan karena tidak ada hasil, tapi karena bocor di jalan. Ini yang harus dibereskan tanpa kompromi,” ujarnya.
ABS Jelata Desak Reformasi Total
Perkumpulan ABS Jelata Muba mendesak pemerintah daerah dan seluruh pemangku kebijakan untuk berhenti bermain aman. Sujarni menilai Muba membutuhkan reformasi ekonomi daerah yang berani dan konkret:
Dana bagi hasil yang diperjuangkan lebih adil, Hilirisasi industri wajib di wilayah produksi, Transparansi penuh sektor SDA, Penguatan BUMD profesional, Pemberantasan mafia sumber daya alam, Investasi SDM lokal agar rakyat tak sekadar jadi buruh.
“MUBA JANGAN HANYA KAYA DI PETA GEOLOGI”
Di akhir pernyataannya, Sujarni menyampaikan kritik paling keras: kekayaan SDA tanpa kesejahteraan rakyat hanyalah statistik kosong.
“Jangan sampai Muba hanya dikenal kaya di atas kertas geologi, tapi rakyatnya terus bertanya mana hasilnya. Sudah waktunya pemerintah berhenti jadi penonton. Muba harus jadi tuan rumah di tanah sendiri,” pungkasnya.
Pernyataan ini menjadi alarm keras bahwa di tengah melimpahnya SDA, publik kini tak lagi sekadar melihat produksi, tetapi menuntut keadilan: seberapa besar kekayaan bumi benar-benar kembali menjadi kesejahteraan bagi rakyat Musi Banyuasin. (Tim/Red).












