Kementerian PUPR dan BBPJN Sumsel Ciptakan Surganya Masyarakat Lintasi Jalan Muba–Mura di Atas Lubang

Foto: Ilustrasi
Oleh: Tamrin
Edisi: Jum’at, 6 Febuari 2026
#Editorial

SEKAYU,Hunternews.online – Jika Kementerian PUPR dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Selatan berniat menciptakan destinasi wisata ekstrem, tampaknya ruas jalan nasional Musi Banyuasin–Musi Rawas layak masuk daftar unggulan.

Bukan karena pemandangan alamnya, melainkan karena sensasi “off-road gratis” yang ditawarkan setiap hari kepada masyarakat tanpa perlu kendaraan 4WD, cukup motor bebek atau mobil keluarga dengan doa yang kuat.

Lubang-lubang menganga di sepanjang ruas ini bukan sekadar kerusakan jalan, melainkan sudah menyerupai monumen kelalaian. Jika di negara lain lubang jalan ditutup demi keselamatan, di sini justru dibiarkan terbuka seolah menjadi karya seni instalasi bertema “negara hadir, tapi lupa membawa aspal”.

Masyarakat Musi Banyuasin dan Musi Rawas kini menikmati fasilitas baru, terapi kesabaran massal. Setiap perjalanan bukan lagi soal jarak tempuh, melainkan uji nyali.

Menghindari lubang kini menjadi keterampilan hidup, setara dengan membaca dan menulis. Barangkali inilah bentuk nyata pembangunan karakter bangsa versi PUPR.
Ironisnya, ruas ini berstatus jalan nasional, artinya tanggung jawab penuh berada di pundak negara.

Namun yang terasa di lapangan, seolah tanggung jawab itu sedang cuti panjang, mungkin sambil menunggu lubang-lubang tersebut berubah menjadi danau alami agar bisa diresmikan sebagai proyek bendungan mini.

BBPJN Sumsel pun tampak konsisten menjaga “keaslian” jalan ini. Jangan rusak yang sudah rusak, begitu kira-kira semboyan tak tertulisnya.

Setiap lubang dipelihara dengan setia, seolah ada kontrak moral untuk tidak mengganggu ekosistem lubang yang telah tumbuh dan berkembang secara organik.

Padahal, di atas kertas, Kementerian PUPR dikenal sebagai kementerian pembangunan. Namun di ruas Muba–Mura, pembangunan tampaknya masih berupa wacana yang tersesat di jalan berlubang. Rakyat tak meminta jalan tol, jembatan layang, atau smart road cukup jalan yang tidak membahayakan nyawa. Tapi tampaknya permintaan sederhana itu masih dianggap terlalu mewah.

Lebih menyedihkan lagi, jalan ini menjadi urat nadi ekonomi daerah. Petani, pedagang, pelajar, hingga pasien yang butuh rujukan medis, semuanya harus bertaruh dengan lubang demi lubang. Jika ada korban kecelakaan, mungkin bisa disebut sebagai “biaya pembangunan versi lapangan”.

Maka patut kita beri apresiasi, tentu saja secara satir kepada Kementerian PUPR dan BBPJN Sumsel atas keberhasilannya menciptakan “surganya masyarakat” dalam arti harfiah: jalan yang bisa mengantar siapa saja lebih cepat menghadap Tuhan jika lengah sedikit saja.

Rakyat hanya berharap, semoga lubang-lubang ini tidak diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai peninggalan sejarah kelalaian negara.

Sebab jika dibiarkan, bukan tidak mungkin suatu hari nanti jalan nasional ini resmi berubah status, dari jalan penghubung antarwilayah menjadi museum terbuka kegagalan tata kelola infrastruktur.

Penulis adalah Pimpinan Redaksi Media Hunternews.online

#Editorial
#Opini_Publik
#Sorot_Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *