Foto: Ilustrasi
MUSI BANYUASIN,Hunternews.online – Proyek pembangunan kembali Jembatan P6 Lalan yang digadang-gadang menjadi urat nadi harapan masyarakat Kecamatan Lalan kembali dihantam ironi. Minggu, 15 Februari 2026 pukul 17.04 WIB, sebuah tongkang bermuatan penuh batubara menabrak konstruksi tiang pancang jembatan yang tengah dibangun. Akibatnya, 2,5 tiang roboh ke dasar sungai, seolah menyempurnakan daftar panjang tragedi yang berulang.
Kapolsek Lalan, Iptu M. Syazilli, S.H., M.H., mengonfirmasi kepada berbagai media menyebutkan armada yang terlibat adalah TB. TITAN 33 / BG. NAUTICA 22, dengan bantuan kapal assist TB. MARINA 2235.
Insiden ini terjadi justru saat pemerintah daerah tengah mengklaim percepatan pembangunan jembatan yang sebelumnya sudah lebih dulu ambruk.
Ironisnya, ini bukan kali pertama. Jika sebelumnya disebut musibah, kini publik mulai bertanya, sampai kapan “musibah” ini dibiarkan berulang dengan pola yang sama?
Di tengah proyek yang berjalan lamban, masyarakat menyaksikan bagaimana tongkang-tongkang batubara tetap bebas melintas di alur Sungai Lalan, seakan peringatan keras dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan hanya sebatas retorika podium.
Awal Januari 2026, Gubernur Sumsel bahkan sempat mewacanakan penghentian sementara lalu lintas tongkang demi keamanan. Namun, fakta di lapangan berkata lain, tongkang tetap melaju, tiang tetap tumbang.
Seorang warga P6 tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
“Pembangunannya terkesan asal-asalan dan sangat lambat. Kalau air sungai naik sedikit saja, pekerja berhenti. Sepertinya tidak ada teknologi mumpuni yang digunakan,” ujar warga dengan nada geram disampaikannya kepada Tim Liputan Media.
Kemarahan warga bukan tanpa alasan. Proyek vital yang menjadi satu-satunya akses penting masyarakat justru terkesan tak memiliki sistem pengamanan alur yang memadai.
Jika tiang pancang saja bisa ditabrak berulang kali, publik pantas mempertanyakan di mana pengawasan dan koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Fakta ini menunjukkan kegagalan serius dalam pengamanan alur Sungai Lalan. Sungai Lalan seolah menjadi wilayah kedaulatan perusahaan tambang, sementara kepentingan publik tidak menjadi prioritas.
Warga mendesak agar alur Sungai Lalan ditutup total untuk tongkang batubara hingga pembangunan jembatan benar-benar rampung secara fungsional.
“Mending tutup dulu alur ini sebelum jembatan selesai! Bagaimana mau beres kalau baru mau dibangun saja sudah ditabrak berulang kali. Mestinya dijaga benar-benar agar insiden seperti ini tidak terulang,” tegas warga lainnya.
Desakan pun mengarah pada langkah konkret, penindakan hukum tegas terhadap perusahaan pemilik tongkang, termasuk penyitaan kapal sebagai jaminan pertanggungjawaban.
Bagi masyarakat, kerusakan ini bukan sekadar kerugian material, melainkan perpanjangan penderitaan akibat akses yang tak kunjung pulih.
Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian dan dinas terkait masih melakukan olah TKP guna memastikan total kerugian serta penyebab pasti gagalnya manuver tongkang tersebut.
Namun satu hal sudah pasti, jika pengawasan tetap longgar dan kebijakan hanya berhenti pada wacana, maka tiang berikutnya mungkin hanya menunggu waktu.
Di Sungai Lalan hari ini, yang kokoh bukanlah jembatan, melainkan sebuah ironi.(Tim/Red).






